“Brum… Brum, siap!!! dor!” bunyi tembakan ke atas dari wasit track motor, aku dengan sigap melaju dan mendahului teman-teman yang lain, disusul oleh Micky yang tidak jauh dariku.
Tiba-tiba aku mendengar klakson berulang kali dan pengereman mendadak dari arah belakang. Kulihat dikaca spion “Micky” ucapku pelan. Aku langsung memutar arahku menuju Micky dan membiarkan motor-motor lain mendahuluiku.
“Heh! Lu mau mati ya! Nyebrang seenaknya. Lo g’ bisa liat, di sini lagi diadain track motor” bentak Micky pada pemuda yang kira-kira berumur 18 tahunan.
“kamu gak apa-apa kan mick?” tanyaku khwatir.
“Liat ni kak, orang ini nyebrang seenaknya, untuk aja bisa mengerem mendadak, kalo g’ aku g’ tau deh apa yang terjadi pada dia” jawab Micky emosi.
Namaku Rey, dan Micky adalah sepupuku satu-satunya. Micky memang suka emosian, kalo aku lebih bisa menstabilkan emosiku dan bertindak lebih tenang.
“Udahlah Mick, barangkali dia lagi buru-buru” ucapku menenangkannya.
“Maaf Mas, maaf…, saya memang lagi buru-buru mau pulang” kata pemuda itu.
“Buru-buru? Buru-buru mau mati? Bentak Micky lagi. “Mick, udahlah dia kan juga udah minta maaf , mas cepatan pergi dari sini” leraiku
“Yah…, kak Rey kenapa sih dia disuruh pergi, aku kan mau minta pertangggung jawaban sama dia” ucapnya. “Pertanggung jawaban apa?” tanyaku.
“Ya, gara-gara dia aku dan kakak g’ jadi balapan hari ini” jawabnya kecewa.
“Kasihankan dia lagi buru-buru, lagi pula minggu depan bakalan ada lagi kok balapannya. Kita kembali aja ke start untuk melihat pemenangnya” ajakku.
Saat aku menjalankan motorku, terasa ada yang menghalangi, kulihat ternyata ada buku bergembok yang terlindas. Aku ambil buku itu dan aku bawa pulang tanpa sepengetahuan Micky. Di kamar, aku periksa buku itu tidak ada identitas pemiliknya dan gembok itupun susah dibuka jadinya aku tidak bisa melihat isinya. Tapi aku yakin buku ini jatuh dari pemuda tadi
Besoknya aku menceritakan buku itu pada Micky dan mengajaknya untuk mencari pemuda itu. Awalnya dia tidak setuju tapi akhirya dia mau menemaniku.
Aku tanya pada orang di sekitar komplek rumah yang dilewati pemuda itu. Tidak terlalu lama akhirnya kami menemukan rumahnya. Tapi ketika aku dan Micky menuju rumahnya, dari arah kejauhan aku melihatnya berlari keluar. Niatku dan Micky ingin mengejar. Tapi melihat rumahnya sedikit terbuka, aku dan Micky berencana meletakkan buku itu di dalam rumahnya.
Tok… tok… tok…, ada orang? Permisi, g’ ada orang, masuk aja lah “ajakku. Micky mendorong pintu perlahan, kulihat sebuah meja dan kursi yang beralaskan lantai semen. “Mana bukunya?” taroh di meja ini aja kata Micky sambil meletakkan buku itu. “Eh tunggu! Ada kotak di dinding itu, sepertinya itu tempat untuk meletakkan buku itu”, tahanku. Ketika aku meletakkannya, tiba-tiba “street” sebuah pintu terbuka tepat pada lantai di depanku dan di dalamnya terdapat beberapa anak tangga. “Kenapa ada pintu?” tanya Micky.
“g’ tau” jawabku heran. “Kita masuk” sebuah perkataan keluar dari mulutku
“Kak, kita masuk tanpa izin, nanti kalau ada apa-apa gimana?” khawatir Micky.
“Mick, Cuma bentar kok, nanti kita keluar lagi” pintaku.
Micky hanya mengangkat kedua bahunya, isyarat hanya menyerahkan semua padaku.
“Street” pintu tertutup kembali, tapi aku dan Micky tidak menyadarinya.
“Ruang apaan ini serba gelap” tanya Micky.
“Liat ada lampu di ruangan itu” sahutku. Aku dan Micky berjalan pelan ke sana “Permisi…, ada orang? ” suara kami bergema di ruangan ini. Ruangan ini begitu tua. “Kita coba buka jendelanya” keras sekali sepertinya tidak bisa.
“Tak sengaja aku memencet tombol merah” ternyata jendela itu bekerja otomatis.
“Hei, itukan toko kaset langganan kita Mick. Menghadap ke arah kita. Berarti ini rumah tua profesor Ikada yang tewas bersama istrinya dalam kecelakaan pesawat 6 tahun yang lalu” ucapku. Profesor Ikada adalah profesor yang berhasil menciptakan penemuan-penemuan baru. Dia mempunyai seorang anak laki-laki yang sampai sekarang tidak diketahui jejaknya. Dia menghilang ketika pemakaman kedua orang tuanya. Saat dicari ke rumahnya dia juga tidak ada. Rumahnya pun terkunci dan tidak ada yang bisa membukanya.
“Kenapa anak itu bisa masuk ke rumah ini? Jangan-jangan dia anaknya profesor yang menghilang itu” terka micky.
“Gak mungkinlah, anaknya kan cewek” bantahku.
Tiba-tiba aku mendengarkan seorang pemuda bicara sendiri di luar sana.
“Lo, kenapa buku itu sudah ada di sini? Ah… mungkin aku kurang teliti, ngapain juga aku ngitarin pasar tadi. Aku harus melanjutkan tugasku” katanya.
“Street” sebuah pintu terbuka “ayo sembunyi di bawah meja” reflekku.
“Eh, itu pemuda yang tadi bisik Micky”. “Ssstt” isyaratku pada Micky
“ngapain dia?” tanya Micky lagi
“sepertinya mengoperasikan komputer tapi menggunakan keyboard maya. Itukan yang pernah diisukan para warga.
“Oh iya,penemuan profesor itu” terangku.
“Hacim” bunyi itu keluar dari Afi. “Siapa itu?” tanya pemuda itu. “O o o… kita ketahuan“ bisikku pada micky.
“Hei siapa kalian” tanya pemuda itu bernada sinis.
“Tenang, tenang dulu. Kami tidak berniat apa-apa!” aku menceritakan kembali kronologis peristiwa itu. Dan syukurlah dia dapat menahan emosinya.
Akupun balik bertanya, “kamu siapa? dan kenapa kamu juga bisa masuk ke ruangan ini . Inikan rumah tua profesor Ikada. Apa kamu ada hubungan dengan beliau?.
”Aku adalah Renzi anak dari profesor Ikada. Waktu itu setelah ke pemakaman orang tuaku, aku segera pulang dan mengunci ruangan ini, karena aku takut orang yang masuk ke rumahku mengayalahgunakan penemuan Ayahku” terangnya.
“Tapi setauku anakya adalah perempuan” tanyaku lagi.
“Aku ini perempuan, suaraku aku rubah agar identitasku tidak diketahui dan karena hidup sendiri di luar sana menjadi seorang perempuan sangat berbahaya kata Ayah, jadi aku memakai topeng hasil penemuan Ayahku ini” jawab anak itu sambil membuka topengnya.
Aku perpesona melihat kecantikan gadis itu, rambutnya yang indah, matanya, dan lesung pipit di pipinya itu.
“Hei kak! Kenapa?” aku terkejut ketika Micky menepuk bahuku.
“Aku mohon pada kalian,jangan memberitahukan hal ini kepada siapapun” pintanya.
“Tenang Ren, kita berdua pasti akan jaga rahasia ini dan mulai sekarang kamu tidak sendirian lagi karena aku Rey dan sepupuku Micky mau jadi teman kamu” ucapku tegas.
“Beneran kalian mau jadi temanku?” tanyanya meyakinkan
“iya” ucap kami serentak.
“makasih ya” ucapnya senang
Beberapa bulan telah berlalu, aku sering menemui Renzi dan mengajaknya ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya. Pada suatu hari aku bulatkan tekadku untuk mengatakan perasaanku pada Renzi. Ternyata, perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan, hari itu juga Renzi bersedia menjadi pacarku.duh senengnya aku.
cerpen rahasia di balik buku gembok-nonfiksi-kumpulan
Diposting oleh: Triana Irsyad - Selasa, 11 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar